Mythical Men Ensemble : Warna baru konser Rock and Roll dari THE S.I.G.I.T.

Mythical Men Ensemble

Bandung – Memori kami masih belum bisa lepas dari megahnya konser Mythical Men Ensemble 30 Juli 2016 kemarin di teater tertutup Dago Tea House Bandung. Satu hal yang membuat kami tidak puas dari konser keempat THE S.I.G.I.T. tersebut adalah, kurang lama!

Sebelum konser dimulai sudah banyak ekspektasi-ekspektasi dalam pikiran bahwa konser ini akan menjadi lebih dewasa, terlihat dari dibatasinya jumlah penonton, usia para personelnya yang sudah tidak muda lagi, juga dengan digandengnya Falzette Music dengan orkestra klasiknya. Akan seperti apa ya?

falzette

Sejak pertama memasuki gedung teater, terlihat barisan ensembel dan set musik orkestra dan pemainnya yang sudah siap pada formasinya. Dibuka langsung dengan ‘Detourn’ dan segera dilanjutkan dengan ‘Gate of 15th’ tanpa banyak basa-basi, penonton seperti disetrum agar segera bersemangat, dan kami segera menyadari bahwa tebakan kami salah, THE S.I.G.I.T. memang selalu memukau di setiap penampilannya. Konsep orkestra yang diangkat tidak mengurangi power mereka, namun melengkapi dan menguatkan aksi panggung mereka. WOW.. benar-benar WOW yang mampu terucap.

rekti

Dalam beberapa jeda waktu, Rekti menyampaikan candaan atau kisah-kisah yang menjadi inspirasi terciptanya lagu-lagu yang mereka mainkan malam itu. Salah satunya lagu ‘Live in New York’ yang tercipta atas dasar kerinduan para personel , THE S.I.G.I.T. kepada tanah air  saat masih berada di Amerika.  Lalu kami tidak menyangka lagu favorit dari album pertama, yaitu ‘Nowhere End’ juga dibawakan dan membuat semua penonton tak dapat menolak untuk bernyanyi bersama. Kemudian ‘All the time’, yang menjadi lagu wajib untuk para Insurgent Army, sebagai lagu yang menguak sisi romantis, namun tetap rock and roll ala THE S.I.G.I.T.. Tidak terlewat ‘Soul Sister’ dan ‘AM Feeling’ yang sebelumnya jarang dimainkan.

‘Owl and Wolf’ dari album Detourn dibawakan dengan sedikit mengurangi ‘kekerasan’ dalam musik mereka, lagu ciptaan Farri sang gitaris mampu membuat pendengarnya menjadi sedikit kasuap-suap alias menyayat-nyayat, celetuk Rekti. Setelahnya panggung hening seketika, dan Rekti mulai memainkan mainan barunya berupa Orange th30 yang sebelumnya ia pamerkan di akun instagram pribadinya, membuka lagu ‘Conundrum’ dan setelah dilanjutkan dengan ‘Cognition’, THE S.I.G.I.T. berkumpul di tengah stage dan memberi bow down pada para penonton yang hadir, dan langsung keluar dari stage. Penonton pun sontak menyerukan “We want more… we want more…” dan belum mau meninggalkan teater. Hingga akhirnya THE S.I.G.I.T. kembali ke stage dalam beberapa menit, tanpa dilengkapi dengan backing vocal dan set orkestra.

Konser dilanjutkan dengan membawakan ‘Black Summer’, ‘Clover Doper’ dan ‘Black Amplifier’ dengan lebih cadas dari sesi sebelumnya, juga penampilan THE S.I.G.I.T. yang lebih atraktif. Pada arah penonton yang tersorot cahaya dari stage, tak sedikit dari mereka seperti bingung tak bisa banyak bergerak, hanya ikut bernyanyi, menganguk-angguk kepala dan menepuk-nepuk lutut mengikuti beat. Kocak! tidak bisa berjingkrak-jingkrak seperti biasanya.

mythicalmenensemble

Panggung yang megah, musik berkualitas, warna baru, visual effect dan lighting yang juga memanjakan mata, musik orkestra dan ensembel yang dramatis, terutama aksi panggung yang enerjik, menjadi alasan sah tiket konser kali ini ternyata langsung terjual habis dalam waktu lumayan singkat. Penonton terlihat cukup puas, kami pun tak percaya, tanpa terasa 2 jam telah berlalu, begitu cepat karena enggan melewatkan sedikitpun aksi THE S.I.G.I.T.. Konser Mythical Men Ensemble ini, merupakan bukti bahwa THE S.I.G.I.T. memang pantas disebut sebagai salah satu ikon rock and roll Indonesia atas prestasi yang sudah banyak mereka raih. WE WANT MORE!

Image credit: Refantho Ramadhan