Rekah Akan “Berbagi Kamar” Dengan Para Pendengar Melalui Debut EP

Jakarta – Bagi para penderitanya, gangguan mental bagaikan sekumpulan hantu-hantu yang berdiam dalam pikiran mereka. Hantu-hantu tersebut mengintai, menanti sembunyi-sembunyi untuk menyergap saat mereka berpikir bahwa semuanya akan berjalan mulus-mulus saja. Sialnya, seperti layaknya hantu, mereka hanya kasatmata pada orang-orang tertentu: psikolog, psikiater, dan mungkin sang penderita itu sendiri.

Ketaksaan dari gangguan mental membuat penderita penyakit ini kerap mendapat stigma dari masyarakat. “Berpikiran negatif,” “terlalu dramatis,” “perasa,” dan “kurang ibadah” adalah sekian dari sebagian besar anggapan mengenai para penderita gangguan mental yang sangat mungkin terlontar di benak orang pada umumnya. Kecenderungan tersebut membuat pembicaraan tentang penyakit ini tanpa membuat penderitanya menjadi bulan-bulanan stigma menjadi sangat sulit untuk dilakukan.

Berlandaskan latar belakang tersebut, membuka ruang aman untuk mulai mendestigmatisasi dan membicarakan mengenai gangguan mental menjadi suatu hal yang penting. “Berbagi Kamar” adalah salah satu ikhtiar dari Rekah, grup post-hardcore asal Jakarta untuk menciptakan ruang tersebut melalui medium musik.

EP yang berisikan 5 lagu ini menceritakan mengenai pergulatan Tomo, gitaris/vokalis dari Rekah dengan gangguan mental yang dideritanya. Semua lirik yang ditulisnya untuk “Berbagi Kamar” merupakan refleksi dari pengalaman pribadi yang dialaminya beberapa tahun lalu. Lewat lagu-lagu dalam EP ini, ia menceritakan bagaimana kondisi yang dideritanya mempengaruhi pandangannya akan kehidupan (dan kematian) serta hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Membangun Cerita Melalui Eksperimentasi Aransemen

Sebagai sebuah grup yang memainkan musik yang abrasif, Rekah menyadari bahwa untuk menyampaikan kisah-kisah yang ingin disampaikan, mereka tidak bisa hanya bergantung kepada riff yang ingar. Eksperimentasi pada struktur dan dinamika sangat diperlukan sehingga tiap lagu tak hanya menjadi ajang unjuk keberingasan dan teknikalitas belaka.

Penulisan tiap bagian lagu pada “Berbagi Kamar” disusun secara progresif sehingga membentuk alur yang bercerita. Namun, pendekatan seperti ini bukan berarti aransemen mereka menjadi linear. Perpindahan antar segmen yang tak tentu justru membuat alur lagu-lagu mereka nampak seperti racauan seorang neurotik.

Rekah tak takut untuk mengunjungi genre-genre lain untuk melengkapi aransemen mereka. Pendekatan seperti ini membuat mereka cenderung mangkir dari pakem. Dalam “Berbagi Kamar,” Rekah membaurkan agresi hardcore punk dengan atmosfer pekat black metal, struktur inkonvensional dari post-rock, dan pendekatan tekstural a la shoegaze.

“Berbagi Kamar” diluncurkan dalam format CD, kaset, dan juga digital melalui Royal Yawns, sebuah label independen asal Bandung. Saat ini, versi digital sudah bisa diunduh dan didengarkan melalui berbagai kanal musik pilihan (Spotify, iTunes, Apple Music, Amazon, Deezer, Tidal, dan Bandcamp). Format fisik berupa CD dan kaset sudah memasuki proses produksi dan akan segera didistribusikan dalam waktu dekat.